brainbuzz
jangan khawatir pada waktu, yang menapakkan jejak-tegasnya dalam guratan di wajahmu, mengubah parasmu yang semula lembut menjadi kaku.
Khawatirlah bila hatimu ikut menjadi kaku.
karena cantik, terpancar dari hatimu
”suatu hari nanti, Indonesia, adalah negara yang jauh lebih rapih dan lebih bersih dibandingkan negara-negara maju di belahan dunia lain !
Hari ini, saya, bagian kecil dari negara ini berjanji untuk merapihkan diri dan lingkungan sekitar saya. Mudah-mudahan sesi rapih-rapih ini bisa menular, dan bisa jadi gerakan massal. amin.
“Aku Lalu, yang hadir selalu di belakangmu. Semua bagianku adalah detik-detik yang baru saja kau lewati, serangkaian memori yang terekam, hingga jutaan emosi yang terperangkap dan memfosil.”
“Aku Kini, yang hadir beriringan dengan setiap tarikan nafasmu, berjalan bersampingan, melingkupimu dalam kesadaran.”
“Aku Nanti, yang selalu menunggumu didepan. kadang aku bersembunyi, dan sekali-sekali menampakkan diri dalam mimpi-mimpimu, dalam setengah sadarmu, dan kadang aku berteman dengan intuisimu.”
Gadis mengerjap takjub pada ketiga makhluk yang baru saja memperkenalkan diri.
Sang Lalu, dengan liputan kabut warna-warni, terlihat cantik, namun ada bagian darinya yang terlihat menyeramkan. Sang Kini, berpendar putih, terlihat sederhana dan bersahabat. Sang Nanti, tak berupa, tapi Gadis bisa mencium wangi sejuk dari setiap gerakan dan kata yang disampaikannya lewat semilir angin.
Aku dimana? Gadis bertanya dalam hati. Tanah ini sepi, asing, tapi hangat dan nyaman.
“Aku dimana? dan untuk apa kalian ada?” pelan, gadis itu bertanya.
“Kau ada dalam pelukan waktu.”
“Tapi bukankah aku setiap hari berada dalam naungannya?”
“Kau bernaung, tapi waktu tak menyentuhmu. Kini kau dipeluknya,untuk memberimu kesempatan memilih.”
“pilihlah siapa yang akan kau bawa, pada nyata dan sadarmu nanti.”
Gadis terpaku, bingung. mengapa harus memilih?
“Pilihlah satu diantara kami, sebagai teman perjalananmu, agar langkahmu lebih kuat lagi.”
“Aku tak ingin memilih. Meski baru kukenal sosok kalian disini, tapi dalam setiap pergerakan waktu, kalian selalu hadir dalam benakku.”
“Aku berbicara banyak pada sang lalu, dan berkhayal banyak tentang sang nanti. dan semuanya kulakukan berdampingan dengan Sang Kini. maka aku bingung mana yang harus kupilih diantara kalian.”
“Pelukan waktu tak kan bertahan selamanya, kau harus memilih secepatnya. Pejamkan mata, dan tentukan, siapa yang kan kau bawa. Ini berkaitan dengan sosokmu di hari tua”. Suara Sang Nanti terdengar tegas dan tajam.
Gadis berpasrah, memohon petunjukNya. Ia memejamkan mata. Sekejap, ia kembali ada di dunia nyata. Kehilangan kata-kata, kehilangan ingatan.
Tanpa Gadis sadari, sang kini mengecupnya dengan lembut. Kecupan magis. Seketika luka sayatan di pergelangan kirinya menutup perlahan.
Gadis menyukuri detik ini, melupakan sang lalu. Sang nanti melingkupinya dengan angin segar bahagia, pertanda masa kelamnya berakhir.
Gadis menutup mata di hari tua, tanpa luka. Penuh cinta.
“Permasalahan pembangunan storet terkait dengan pembebasan lahan. Pembangunan konstruksi semacam ini mendapatkan restriksi, akibat wilayah pembangunan yang diperlukan berada dalam kawasan konservasi.”
“aturan semacam ini merugikan. Pohon dipentingkan, padahal manusia lebih membutuhkan lahannya untuk menampung air.”
Jadi, mana yg lebih penting? Manusia atau pohon?”
Memangnya harus memilih ya?
Dalam dunia nyata : harus.
Dalam dunia saya : seharusnya tidak ada pertanyaan semacam itu.
Pohon, ada untuk menangkap udara, menyalurkannya kembali sebagai udara untuk bernafas.
Manusia, ada untuk menjaga bumi, keberadaan makhluk lain pun adanya untuk mendukung penghidupannya.
Jika kita harus memilih manusia lain, dan mengorbankan sekumpulan pohon, tidak adil. Karena di masa depan, kita lebih membutuhkan kehadiran mereka, dibandingkan keberadaan bendung kokoh yang tak selamanya berfungsi…
Adakah cara lain untuk menghadirkan air untuk keberlangsungan hidup manusia , tanpa harus memusnahkan kehidupan lain…?
Atau seharusnya kita merubah perilaku kita terhadap air yang kita punya?
The world’s most untouched rainforest obliterated for palm oil while the world watches and does nothing. Located in Indonesia, Borneo is the third largest island in the world. It’s home to some of the rarest species on earth, including the pigmy elephant, clouded leopard, and the Sumatran rhinoceros.
The country is undergoing break-neck economic development, and environmental laws are weak to the point of unenforceability. Palm oil is used in crackers, chocolate, ice cream, pastries, crackers, Nutella, etc.
(via nokknokk)
i was trying to find a stylus that works in my notebook, but i found something better ! check this out »>
Home Made Styli by jimblodget on Flickr.
Home Made Styli
These work with any capacitive screen or trackpad such as the Apple iPad, iPhone, or iTouch.
Materials: synthetic kitchen sponge such as the Scotch Brite sponge. Use a new one right out of the package. Old dried up sponges don’t work. Use the soft part, not the pot-scrubber, scratchy part of the sponge. You can cut off a piece and trim it with household scissors. I start with a piece about 1/2 inch (1.2 cm) square and an inch (2.5 cm) long. Later I trim it down to about 1/4 inch (5 mm) in diameter. You’ll also need some aluminum foil.
I discovered that the material that holds the sponge has to conduct electricity. I guess your fingers (and body) act as a ground. So plastic pens, straws and other holders don’t work.
1. Mini Maglite. I unscrewed the lens and popped out the lamp and its holder and took out the batteries and stuck a piece of sponge in the end. This worked well and felt comfortable in the hand, but in practical use the tip was too big. It was no better than drawing with my index finger.
2. Pentel stainless steel body pen. I unscrewed the tip which also included the ink cartridge on this pen. This left the barrel and the cap. I made a stylus with a piece of sponge rolled up in some aluminum foil and stuck it in the end of the barrel. This makes a very nice stylus. You can replace the cap and it looks like a normal pen that you can carry with you in a shirt pocket or bag.
3. Sponge and aluminum foil. This one is the easiest and fastest to make. It’s very nice to use. It’s lightweight and you can use it at any angle. Just fold some aluminum foil over half of the piece of sponge, compress it, and continue to roll, compress, and crumple the foil until you have the diameter and length of pen you want.
4. Plastic drinking straw and aluminum foil. This makes a very nice, lightweight, and rigid stylus. Roll a piece of sponge between your fingers to compress it and work it into the end of a straw. Then wrap the straw with aluminum foil and secure the ends with clear tape. I also ran a piece of tape on the seam of the foil along the length of the straw. Be sure to have some foil wrapped around the sponge. I cut the straw to be about 6 inches (15 cm) long. I put sponge at both ends of the straw. That way it doesn’t matter how I pick it up; it always works. Also, it’s fun to tell your friends that one end is for drawing and the other is for erasing. I do a little drawing in Brushes and then hold up the stylus and make a big deal of turning it over while secretly double tapping the upper left corner of the screen with my left hand to change from brush to eraser. This bit of misdirection works every time. For added amusement I hand them the stylus and let them try.
5. Just a short version of #4. This one works well for detail and it’s easy to carry around as a spare.


